Review When Life Gives You Tangerines: Mengungkap Sisi Sejarah, Budaya, dan Politik Korea


Poster promosi drama Korea When Life Gives You Tangerines, diposter terlihat Aesun dan Gwansik saling bergandengan tangan dengan mesra
Sumber : Netflix Korea Instagram

Gambar warning untuk memperingati pembaca berhati-hati sebelum membaca artikel karena artikel dipenuhi dengan spoiler

1. Fakta-fakta Produksi Drama When Life Gives You Tangerine

When Life Gives You Tangerines adalah sebuah projek besar kerja sama Sutradara Kim Won-seok (selanjutnya kita panggil aja dgn kamdok-nim) dan Penulis Script terkenal Im Sang-chun, kita sebut aja penulis script ini dengan jakka-nim yaah supaya kagak panjang wkwk. Besties tau drama Fight For My Way dan When The Camellia Blooms? Drama yang punya tempat tertinggi dalam sanubari para pecinta perdrakoran (baik rating dan budaya popnya) sampe sering dijadiin meme sama komedian, kreator, bahkan sama aktor-aktor di korihah. Nah beliau inilah penulis drama-drama keren tsb.

Kalian bisa nonton commentary behind the scene yang ada Kim kamdok-nim, plus para aktor dan aktris di bawah ini.

Aku udah cari-cari info mengenai Im jakka-nim ini, karena jujur penasaran banget, beliau ini sebenarnya seorang perempuan atau laki-laki sih? Kalo liat dari namanya, sangat-sangat maskuliiin yah haha (tapi bisa jadi aja cuman nama pena) tapi eh tapi dibeberapa kesempatan, Gong Hyojin (aktris pemeran When The Camellia Blooms) pernah bilang kalo referensi karakter Dongbaek adalah jakka-nim itu sendiri. Ini juga diperkuat sama berita dari Harian Kookmin (alias Kookmin Ilbo) kalau jakka-nim adalah perempuan berusia sekitar 30-an.

Park Seojun dan Kim Jiwon berpose di poster drama Korea Fight For My WayDongbaek dan Hwang Yong-sik bertatapan mata di poster promosi drama When The Camellia Blooms
Sumber : KBS2

Anyways, sebenarnya mau perempuan mau lelaki kagak masalah yah πŸ˜… Cuman aku heran gitu looh kok bisa dia nulis cerita cinta bisa sedalam itu. Soalnya melihat kebelakang karya-karyanya, beliau ini lihai banget ngorek sudut pandang yang sering kita nggak lirik gitu loh. Jadi walaupun bahas tema yang udah klise dan familiar banget, kita tetep nangis jelek depan layar masing-masing πŸ˜…

Buat segi artistik, When Life Gives You Tangerines dipimpin sama Art Director, Ryu Sunghee yang sebelumnya juga pernah kerja sama sama Sutradara Kim di drama Little Woman. Beliau ini terkenal punya tangan ajaib dan selera yang apik. Bayangin aja, Ryu Kamdok-nim ini orang dibalik keberhasilan visual art dibeberapa film karya sutradara terkenal Park Chanwook kamdok-nim, sebut aja Decision to Leave dan The Handmaiden. Nah kalo musik ditangani sama Studio Curiosity, yang aku yakin semua pecinta drakor tahu lagu ini, yaitu Gaho - Start dari drama Itaewon Class. Wonhaneun daero! hei! Da kajilkeoya! hei!

Wkwk, lanjot.

Nah, setahu aku, sepanjang awal 2025, When Life Gives You Tangerines ini konten original Netflix yang kedua setelah The Trauma Code (Ju Jihoon, Chu Youngwoo). Artinyaa apa kalau konten original, kagak tayang di stasiun tv, gitoooh. Mana dua-duanya sukses besar lagi. Mantap emg backup-an Netflix ini, sangat-sangat totalitas soal investasi.

Dramanya awalnya direncanain mau tayang di paruh kedua tahun 2023 atauuu paling lambat paruh pertama 2024. Tapi karena masalah produksi, biasanya sih dibagian editing yang paling lama yah, karena setelah nonton drama ini, keliatan banget effort CG-nya yang sangat sangat epik. Kalian nonton deh, sekalian nonton behind the scene syutingnya, pasti kalian ngerti.

Ada banyak special appearance, dari aktris senior Na Moon-he (High Kick!), Oh Jungse (Its Okay Not To Be Okay), Yeom Hyeran (The Glory), Uhm Jiwon (Birthcare Center), Kim Sungryung (The Heirs), sama Kim Seonho (Hometown Cha-Cha). Nah di antara semua cameo tersebut sepertinya siiih yang paling dinantikan Kim Seonho yaah, soalnya oppa satu ini terakhir comeback di drakor itu 2021, yah walaupun sebenarnya main film sama series pendek juga sih.

Drama ini berjumlah 16 episode dan dirilis menjadi 4 chapter yang tiap chapternya berisikan 4 episode. Ini disesuaikan sama konsep dramanya yang juga terbagi menjadi 4 musim, yaitu Spring, Summer, Autumn, dan Winter.

Poster empat musim yang merepresentasikan kisah Aesun-Gwansik di WLGT
Sumber: Netflix Korea

Setiap musim tersebut menggambarkan cerita yang menampilkan ciri khasnya masing-masing. Nah, awalnya drama ini emang diawali sama yang berbunga-bunga wkwk, bersemi, dan mengembirakan gitu eh tapi makin kesana kok makin bercucuran air mata ini. Tentu saja, chapter pertama yakni Spring berhasil menggiring penonton serasa sedang di Korea ngeliat pucuk-pucuk bunga bermekaran. Isinya Spring masih sangat padat tentang mimpi-mimpi remaja Aesun dan Gwansik plus penggambaran karakter khas remaja yg belum matang dapet banget.

Lalu di chapter kedua, Summer mampu ekspresikan kesan panas membara, penuh semangat 45, dan perjuangan. Tentu sajaaa, sangat-sangat merepresentasikan kondisi Aesun dan Gwansik di chapter ini, bahkan netijeen mau open donasi buat mereka saking kasihannya. Gimana dengan Autumn dan Winter? Wah jangan tanya kondisi kami para penonton pada saat nonton chapter ini. Orang-orang pada nanya, mata lu kenapa? siapa habis lu tangisin? lu habis putus? Cukup sampai disini aku bilangnya, kalean nonton aja sendiri supaya nangis juga kek kita wkwk. 

Detail-detail yang ditampilkan jakka-nim tidak mengkhianati usaha para tim produksi. Semua jajaran aktor dan kamdok-nim approve kalau jakka-nim ini nulis script seperti nulis buku kumpulan puisi. Saking puitis semua dialog yang diucapin aktor selama akting.

Sepertinya ini nggak muncul begitu aja yah karena katanya beliau survei langsung di Jeju. Gestur-gestur dan dialek (satoori) dipelajari langsung supaya menambah kesan original drama ini. Kalau kalian ingat gestur ikonik Aesun yang menyilangkan tangannya di dada sambil bilang, "Hm, neomu choha," (Hm, aku sangat senang) sambil senyum. Nah itu terinspirasi dari nenek-nenek yg diwawancarai katanya.

Jadi ingat Arie Kriting yang selalu nanya ke istri, "Kamu happy?" Seperti itulah kiranya kesannya wkwk. Jangan-jangan jakka-nim terinspirasi dari situ HAHAHA.


Gestur khas Aesun setiap dia bahagia dan terharu sama sesuatu, kedua tangannya dia kumpulkan di dada.
Sumber : Netflix Korea Instagram

Nih, besties bisa nonton short-nya, kebetulan dapat editan videonya di TikTok hihi, Gestur unik Aesun saat senang, lucu banget!

Terakhir yang paling menonjol adalah judul dramanya, seingat aku awalnya drama itu judulnya Life (인생) deh terus diubah jadi ν­μ‹Ή μ†μ•˜μˆ˜λ‹€ (Pussak Sokassuda) yang dalam dialek Jeju berarti 'Kamu Sudah Berusaha dengan Keras' which is moreeee delicate I think wkwk. Its give more Jeju feel. Kalau judul bahasa Inggrisnya pakai judul When Life Gives You Tangarine yang terinspirasi dari idiom bahasa Inggris "When life gives you lemon, then make it lemonade," tapi demi menyesuaikan latar belakang drama dibuatlah tangerine yang menjadi komoditas buah utama di Jeju Island.

Well, mari kita beri tepuk tangan yang meriah sekali lagi untuk para tim produksi yang telah memberikan usaha terbaiknya.

2. Konteks Sejarah, Budaya, dan Politik di Drama When Life Gives You Tangerines

When Life Give You Tangerines bukan cuman nampilin keindahan landscape Pulau Jeju, tetapi ada banyak adegan yang memerlukan pemahaman tentang sejarah akan peristiwa yang pernah terjadi pada masa itu di Korea. Dimana tahun 1980-an sampe 90-an adalah tahun perkembangan pesat Korea Selatan dibidang ekonomi dan teknologi. Berikut ini beberapa yang menarik untuk dibahas.

Budaya Konfusianisme dan Patriarki yang Mengakar di Masyarakat Korea pada Masa 60-an

Sejak zaman Joseon, konfusianisme sudah menjadi pilar pembentukan pemerintahan Dinasti Joseon. Sebenarnya bukan hal yang buruk, ajaran konfusianisme mengajarkan pada kebajikan, etika, dan harmoni sosial. Kelebihannya yaitu mendorong stabilitas sosial dan moral masyarakat. 

Adapun kekurangannya yaitu kaku akan perubahan nilai-nilai tradisional yang mulai berubah seiring berkembangnya zaman. Jadilah banyak masyarakat yg berpikiran patriarki sekali. Yg diutamakan selalu laki-laki, sedangkan perempuan terabaikan. Di episode 1-4 drama ini, perilaku ini sangat-sangat tergambar jelas, terutama untuk Aesun yg perempuan, miskin, dan tidak punya backing-an. 

"Aesun, yang miskin itu ibu, bukan kamu, jadi jangan pernah ciut. Kalo kamu, harus hidup dengan hebat," kata Ibu Aesun ke Aesun kecil.

Hasil dari nonton kultur pop Korea bertahun-tahun buat aku mikir kalo perempuan di Korea seringnya cuman dianggap sebagai objek, bukan sebagai suatu entitas manusia. Liat aja kalau ada skandal dating idol atau aktor, yang paling dirugikan siapa? Yg perempuan. Padahal mah sebenarnya bukan salah siapa siapa kalau mau pacaran, wong mereka sama-sama suka jadi pacaran. 

Ini juga yang diangkat di drama, adegan waktu Aesun dan Gwansik kawin lari ke Busan tapi gagal. Gwansik tetap bisa sekolah, sedangkan Aesun harus putus sekolah. Neneknya bilang gini:

"Saat kalian kawin lari, itu perilaku berwibawa buat laki-laki, tetapi hal memalukan untuk seorang perempuan," Nenek Aesun.

Remaja Aesun dan Gwansik di depan hotel saat ketahuan kabur
Sumber : Netflix Korea Instagram

I know the granny doesn't have any intention to give shame to Aesun, tapi nyesek banget dengernya. Udah kek nonton film Uang Panai aja gw. Orang Bugis pasti tau nih film, ye kan. 

Aku jadi ingat matkul feminisme beberapa tahun yg lalu. Sebagai anak sastra, aku beruntung punya beberapa kali kesempatan buat belajar soal feminisme. Dan aku ingat banget pernah nanya ke dosen di sesi Q&A, "Kenapa kalau ada kawin lari, selalu perempuan yang kena imbas dan sisi buruknya?" 

Seperti neraca yang berat sebelah, posisi perempuan seperti sasaran empuk buat dijadiin media kritikan sosial. 

Dosenku yg kebetulan juga perempuan jawab gini, "Sepertinya itu memang sdh seperti pakem di masyarakat kita. Its a very asian thing, yg nganggep perempuan masih terbelakang dibanding lelaki. Bahkan banyak penggambaran di karya sastra, baik yg klasik maupun novel modern menggambarkan sosok perempuanlah yg selalu menerima konsekuensi sosial." 

Waktu itu kita bahas banyak soal konsekuensi sosial yg harus diterima perempuan di berbagai momen, tapi aku nggak bahas disini yah soalnya panjang banget kalo bahas feminisme 😭 Belum lagi peranakannya kek misogini. 

Adegan-adegan pas Aesun protes kenapa bukan dia yg jadi ketua kelas padahal jelas-jelas suaranya lebih tinggi daripada Si Man-ki, pas dia ngadu ke emaknya kalo dia nyesek tiap makan karena nggak pernah dikasih ikan sama pamannya, dianggep penghalang akedemik Si Cucu Tertua Lelaki, Jung-gu karena dia lebih pintar. Pokoknya jadi Aesun benar-benar nyesek deh.

Dan mungkin itu jugalah yg buat Aesun pengen banget anaknya nggak ngalamin kejadian kek gitu. Sama seperti emaknya yg larang dia jadi haenyeo, dia juga ngelakuin hal yg sama ke Geum Myung. Semiskin apapun mereka, sekolah anak-anak yang paling penting dan anaknya punya mimpi didukung poll-pollan. 

Nantinya adegan gaya parenting Aesun dan Gwansik makin kontras di chapter 2 & 3 (Ep 5-12) pas mau nikah sama Youngbum. Apa yg udah dilakuin mati-matian orang tua Geum Myung supaya dia hidup percaya diri dan bangga sama apa yang dia punya tergambar dengan sempurna. Benar saja, Geummyung dengan beraninya batalin pernikahan dan ngomong di depan mantan calon mertuanya:

"Aku nggak pernah sekalipun malu sama jari ayahku," Geummyung. 

CESSS NANGIS NGGAK LO SEMUA DISINI??? Siapa yg nggak nangis liat beginian.

Disinilah tampil kecerdikan penulis, dia sengaja bangun pilar-pilar di episode sebelumnya perihal kehidupan pribadi Aesun yg penuh diskriminasi cuman krn dia perempuan dan miskin. Lalu lanjut lagi memperkuat pondasi soal parentingnya ke Geummyung, lalu penonton disodori perilaku emak Youngbum yang sangat-sangat egois. 

Gimana penonton nggak gedeg kan? Yg dijadiin bahan perbandingan Our Litteratue Girl Aesun sama Our Steelheart Gwansik, 2 org yg udah ngalamin banyak kesusahan dari muda. Yg hebat dari dua karakter ini tuh mereka sadar dan mau untuk memutus rantai kemiskinan dan sikap-sikap patriarki di anak-anaknya.

Tentu saja, yang paling berperan besar untuk melawan pandangan-pandangan seperti itu adalah para lelaki dalam sebuah rumah tangga, contohnya Gwansik. Dialah pilar keluarga, netizen sampe bilang nih Satu rumah, satu Gwansik. Pas denger aku yang paling setuju, ngangkat tangan setinggi-tingginya 🀣🀣🀣 

Karakternya mampu mempertegas bahwa tindakan seorang lelaki, suami, dan ayahlah yang membuat suasana rumah selalu indah. Sampe-sampe Aesun tua bilang ke blio, "Dimana kamu berada disitulah rumahku," eyaaa. Inget yee, mau spek Gwansik yah minimal juga harus spek Aesun πŸ˜†

Sebut saja si Bu Sang-gil yg selalu iri sama keluarga sederhana Gwansik-Aesun, padahal dia kaya. Apalagi istrinya Sang-gil yang iri ke Aesun cuman perkara jepit rambut murah Aesun yg selalu dibeliin sama Gwansik, padahal dia nyonya kaya raya. Apalagi pas Geummyung abis pergi liat sunrise sama bapaknya berdua, si Sang-gil langsung iri dengki tuh wkwk, kok bisa lu berduaan doang sama anak wedok elu nonton sunrise? Sedangkan dia sama anaknya cuman bisa saling tinggi nada kalo bicara. 

Potret masa tua Bu Sang-gil dan Yang Gwan-sik sambil memomong cucu mereka
Sumber : Netflix Korea Instagram

Aku rasa karakter Bu Sang-gil dan keluarganya ini adalah karakter yg perlu banget buat menggambarkan permasalahan-permasalahan zaman sekarang. Melalui drakor ini, orang-orang pada sadar kalau isu fatherless, keluarga broken home, dan kekerasan rumah tangga adalah hal yg universal dan abadi. Mau dulu sama sekarang, mau di Korea atau di Indonesia semua orang bisa relate sama masalahnya.

Satu lagi nih adegan yang paling membekas di drakor ini. Ingat adegan ini?

Perbedaan lauk untuk para lelaki dan para perempuan di keluarga Yang, dapat dilihat yang satu sangat beragam sedangkan yang satunya lagi hanya sisa, Gwansik berbalik badan supaya bisa satu meja dengan istri dan anaknya.

Yup, adegan saat Gwansik membalikkan badannya buat makan semeja sama emak, istrinya, dan si kecil Geummyung. Lalu kenapa begitu disorot di drama? Emg kenapa? Jadiiiii, kembali lagi ke perihal konfusinisme dan patriarki yg kita bahas di atas, itu adalah gambaran tersimpel bagaimana kedudukan dibagi dalam sebuah keluarga.

Yg paling tinggi kedudukannya tentunya anak laki-laki tertua pencari nafkah, yang paling terhormat adalah perempuan paling tua. Jadi urutan kedudukannya tuh begini, Bapak Gwansik, Gwansik, Nenek Gwansik, Emak Gwansik, Aesun, dan Geummyung. Bahkan bisa dibilang Aesun yang paling terakhir karena cuman dianggap benar-benar orang asing yg masuk ke dalam keluarga Yang.

Karena kebiasaan orang Korea makan di meja kecil, jadilah Gwansik, bapak, dan neneknya semeja sama dia. Dengan lauk ikan, sup, dan kacang polong yg banyak. Sedangkan meja yg lain, which is diisi para perempuan menantu di keluarga Yang cuman dapat sisa kepala ikan sama sup kerak nasi.

Nah praktek-praktek di atas yg sekali lagi menggambarkan betapa tidak adilnya masyarakat Jeju sama kedudukan perempuan. Makanya pas Gwansik balik badan, emaknya marah sama Aesun berkaca-kaca matanya. Saking terharunya karena dia rela memutus tradisi yg buruk itu demi ngeliatin ke Geummyung masa depan yg lebih cerah.

Ini salah satu kalimat yang jadi favorite di hati pemirsah di chapter 1.

Emak Gwansik, "Kalau putra Ibu satu-satunya selalu membela istrinya daripada Ibunya, terus siapa yang bakalan bela Ibu?"

Gwan-sik dengan savage-nya jawab, "Yang seharusnya belain Ibu yah suami Ibu sendirilah."

WKWKWKWKWKWKWKWKWKWKWK. BRO. YOU'RE MY TYPE! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Arsitektur, Landscape, dan Budaya Khas Pulau Jeju

Sesuai dengan judulnya yg berbau tangarines yg merepresentasikan Pulau Jeju, drama ini banyak menyoroti arsitektur, landscape, dan budaya khas Jeju. Misalnya pagar rumah di sana tuh pake batu-batu yg ditumpuk sampe biasanya setinggi pinggang atau bahu. Kalau kalian pernah nonton variety show Handsome Guys episode khusus Pulau Jeju yg kebetulan guest hari itu ada Jin BTS (ARMY dari zaman baheula wkwk), nah disitu dijelaskan kalau kriteria pemilihan lokasi rumah di Jeju itu lumayan berbeda. Kalo biasanya kita cari rumah yg dekat sama sumber air dan mata pencaharian, di Jeju itu pilih rumah liat dari intensitas angin, yg secara otomatis nyari banyak pohon.

Dongmyung berlari melompati pagar rumah

Pintu pagar khas Jeju (μ •λ‚­; jungnang) juga banyak muncul di drama ini, kalo kalian liat gambar di atas. Pintu pagarnya terdiri atas 3 bilah kayu yang dipasang melintang. Nah kalau ketiganya turun kayak gambar di atas itu artinya tuan rumah lagi ada di dalam rumah, 2 batang kayu turun artinya tuan rumah keluar sebentar dan bakalan balik cepat, 1 kayu turun artinya tuan rumah keluar lumayan lama, sedangkan kalo terpasang tiga-tiganya berarti tuan rumah lagi nggak ada di rumah dan diharapkan nggak masuk/nunggu. 

Keren yah, komunikasinya non-verbal dan memanfaatkan alam gitu πŸ‘

Karena landscape Pulau Jeju yg berangin dan dikelilingi oleh laut. Kreativitas penulis kemudian muncul dengan cara memanfaatkan ciri khas tersebut di salah satu adegan ternyesek di drama ini, yaitu pas Dongmyung tenggelam di laut gara-gara badai musim panas Pulau Jeju.

Gwansik, Aesun, dan Dongmyung di pinggir pantai setelah kecelakaan yang menimpa Dongmyung

Disini aku benar-benar salut sama akting para pemain. IU yang dulu di Moon Lovers aktingnya masih standard, aku akuin benar-benar udah bisa disandingkan aktingnya dengan para aktor sekelas Chungmuro. Park Bogum udah nggak diragukan lagi, apalagi pas narasi Geummyung bilang gini.

"Untuk pertama kalinya, hati Si Hati Baja runtuh," narasi Geummyung.

Selanjutnya, ada haenyeo. Secara literal, haenyeo artinya wanita laut. Merujuk ke para wanita yang menyelam buat cari abalone sama kerang laut. Dulu banget, terutama masa Perang Korea, banyak keluarga yang ditinggalkan sama suaminya untuk berperang. Mau nggak mau, para ibu inilah yang harus mencari nafkah di rumah. Dimulailah dari yg paling gampang dan selalu tersedia, yaitu laut.

Mereka biasanya udah latihan menyelam dan tahan nafas panjang sejak kecil, usia 6-10 tahunan. Makanya Geummyung mau diikutkan dalam ritual pas masih kecil sampe Aesun ngamuk. Mindset Aesun tuh mikir kok anak sekecil anakku lu mau suruh-suruh cari nafkah buat keluarganya?

Para Haenyeo berkumpul di semacam shelter buatan para haenyeo di pinggir pantai berbatu di Jeju

Kalau di drama, haenyeo ini biasa ngumpul di pinggir laut di antara bebatuan, tapi kalo sekarang setahu aku (pengalaman dari liat beberapa varshow) shelter haenyeo udah bagus. Udah ada atapnya sama rumah yang tersedia penghangat ruangan. Bayangin aja tuh kalo udah mau masuk musim dingin, beuuh dingin gila pastinya. Belum lagi kalau musim panas angin kenceng banget.

Gambar-gambar yang memperlihatkan indahnya landscape pulau Jeju

Tak ketinggalan, sinematografinya! CANTIK BANGEET. Gila woy. Semua elemen muncul. Ada laut, gunung, udara, dan daratan. Semua musim juga ada, dari Spring, Summer, Autmun, dan Winter semua disorot dengan elegan dan cantik. Aku paling suka tiap karakter di drakor ini kalau lagi jalan di pinggir laut Jeju yg dipenuhi sama batu karang hitam pekatnya itu. Apalagi adegan pas Emak Aesun dan Aesun long shot membelakangi cahaya sambil memperlihatkan ombak dan susunan karang. Cantik banget.

Satu lagi yang aku liatnya sedikit shick shack shock, pas jeruk mandarin dipanggang. Kok dipanggang? Ternyata itu banyak artinya loh besties. Selain supaya buahnya lebih manis lagi, ternyata jeruknya dibakar pas lagi musim dingin jadi lebih hangat di badan. Nah kalo jeruk udah dibakar, otomatis ruangan jadi harum juga dong yaah, jadi nggak perlu beli stella jeruk 🀣🀣🀣

Peristiwa-peristiwa Besar Korea Selatan di Tahun 1970 - 1980-an

Gambar mahasiswa yang sedang demo di Gwangju demi memperjuangkan demokratisasi Korea Selatan yang saat itu mengalami kudeta militer oleh Chun Duhwan
 Sumber : Museum Demokrasi 18 Mei 

Diawali sama mimpi buruk dan insting keibuan Aesun yang bisa menyelamatkan Geummyung saat sekarat, eristiwa-peristiwa besar yang terjadi di Korea saat itu tergambar begitu intens. Untuk penonton yg nggak terlalu mengerti konteks sejarah Korea pada saat itu, mungkin akan sedikit membingungkan.

"Di masa ketika bahkan sebuah ketulusan pun membeku, di tahun ketika tiga kasus beku terkenal Korea Selatan terjadi. Ibuku akan selalu meneleponku setiap kali buletin malam. Dan ternyata, kegelihannya itulah yang menyelematkanku."
Yah, adegan saat Aesun nelpon terus negur Geummyung buat pulang cepat bisa dibilang representasi kekhawatiran masyarakat pada masa itu. Di penghujung tahun 70-an dan 90-an, Korea dilanda kondisi politik dan ekonomi yang bergejolak, banyak demo terjadi karena penolakan atas kudeta militer Chun Doo-hwan. Apalagi, saat itu Korea Selatan yang baru saja pulih dari Perang Korea dihantui oleh kediktatoran bertahun-tahun.

Ditambah lagi, di tahun 1980-1990-an, pembunuhan berantai bermunculan dan paling terkenal adalah Pembunuhan Berantai Hwaseong (kini disebut Pembuhan Berantai Lee Chun-jae). Dimana dia selalu menargetkan perempuan yang pulang sendirian di malam hari. Orang satu ini adalah pembunuh psikopat pertama yang terkenal luas di media karena membunuh tanpa motif pribadi melainkan 'cuman karena pengen'. Dimana pada masa itu, pembunuhan tanpa motif di Asia masih awam karena sebelumnya biasanya karena dendam, butuh uang, atau emosi.

Dari atas: Kasus Penculikan dan Mutilasi Lee Hyung-ho (1991); Kasus Frog Boys (1991); & Kasus Pembunuhan Berantai Lee Chun-jae (1986-1991)
Dari atas: Kasus Penculikan dan Mutilasi Lee Hyung-ho (1991); Kasus Frog Boys (1991); & Kasus Pembunuhan Berantai Lee Chun-jae (1986-1991)

Nggak, sampai disitu saja. Dulu marak banget yang namanya penculikan anak. Dulu itu, pada masa pemerintahan Park Chung-hee, orang-orang yang merusak pemandangan seperti pengemis, gelandangan sama orang miskin sering 'diungsikan' yang sebenarnya dieksploitasi. Orang yang nangkap 3 kategori itu dikasih imbalan, jadi banyak orang yang nggak sesuai kriteria pun ditangkap.

Aesun kecil yang hampir diculik juga salah satu contohnya. Selain dieksploitasi, anak-anak kecil juga sering diculik dan di bawah ke panti asuhan secara paksa. Setelah diculik begitu, mereka bakalan dikirim buat diadopsi ke luar negeri secara ilegal. Namanya sih adopsi, tapi kalo liat caranya sih lebih ke perdagangan manusia.

Besties yang mau nonton kasus-kasus di atas, coba aja di search di YouTube, salah satu channel yang lengkap dan bagus narasinya itu punyanya Mas Hansol aka Korea Roemit. Dia jelasin selalu detail dan gampang dicerna. Ini salah satu linknya.


3. Adegan Terbaik Drakor When Life Gives You Tangerines

Ada beberapa adegan yang paling berkesan selama aku nonton drama ini.

Cinta Abadi Aesun-Gwansik

Aesun dan Gwansik saling menggendong dengan Gwansik memakai kacamata Ray-Ban Aviator Classic yang ia dambakan dan Aesun dengan baju motif bunganya.
Sumber : Netflix Korea Instagram

Sepertinya pilihan terbaik Aesun dalam hidupnya adalah memilih Gwansik daripada Bu Sang-gil. Aktris Moon Sori bilang di commantary behind the scene, demi mendukung plot Aesun yang selalu hidup di taman bunga karena dicintai oleh Gwan-sik, beliau rela beli kaus kaki motif bunga 30 pasang, jepit rambut berlaci-laci, sama selalu pakai baju/kardigan motif bunga/aksen bunga. Itu semua demi menambah kesan ke penonton bahwa Aesun itu benar-benar diratukan sama Gwan-sik.

Apalagi diakhir cerita, Gwansik cuman digambarkan cuman punya sepetak baju semua musim di lemari, sedangkan jepit rambut Aesun ada sampai berlaci-laci. Waktu Gwan-sik rajin berobat di rumah sakit, yang dia khawatirin cuman tetap istrinya sampe-sampe anak wedok kesayangannya dimarahin kenapa nggak bisa datang waktu itu. Gwan-sik memang sayang sama anak-anaknya, tapi istrinya tetap paling utama.

Sungguh sebuah singgungan untuk pria-pria di luar sana πŸ‘€. Karena hakikatnya, pasanganmulah yang bakalan jadi teman hidupmu sampai tua, bukan anak atau pun ibumu. Bukan berarti jangan dengerin emak, tapi kalau ada masalah yah yang dibela istri dong. Kan dia nikah karena cintanya sama kamu, giliran mertua marah-marah lu belain emak lu doang wkwk. Jadi ingat kalimat ini.

"Aku menikahi Aesun untuk jadi istriku, bukan untuk jadi menantu Ibu."

Cintanya Gwan-sik dan Aesun itu apa yah ... Mirip berlian (?) wkwk. Makin dikikis, makin indah, dikikisnya pun nggak bisa sembarangan, harus dengan sesama berlian. Di awal naksir Aesun, Gwan-sik malu-malu kucing, kadang-kadang serem juga liat Aesun yang suka mau ngelemparin dia pake batu wkwk tapi lama kelamaan Aesun juga balik suka. Tanpa embel-embel dan tanpa syarat. Dia tau istrinya ini perempuan yang ambisius tapi karena nikah sama dia, semua impiannya harus terkubur. 

Aesun pun nggak diam gitu aja, walaupun punya mimpi besar sebagai seorang gadis penyuka sastra. Dia tetap nerima keadaan keluarganya, nggak ngeluh capek dan muak sama kemiskinan. Hebatnya drama ini yah itu, dia selalu kasih kita realita di drama. Seakan-akan mau bilang, Nggak ada yang instan di dunia ini. Kalau di drama-drama lainnya abis dihantam ombak, datang laut yang tenang, ini nggak besties. Malahan makin susah. Paling kasian pas mereka buka restoran sashimi, kiran bakalan sukses eh taunya tetap aja ada cobaan sampai akhir.

Disitulah keunggulan drama ini, menghibur tapi tetap nampar realita ke penonton. Ngaku aja kalean yang mesem-mesem liat Aesun sama Gwansik yang masih mesra bahkan di usia tua mereka. Sampe-sampe Eun-myung neriakin mereka buat stop mesra-mesraan mulu, cucu-cucumu mikirnya cinta itu selalu indah gara-gara liat emak-bapak begitu WKWKWK. 

Potret masa tua Gwansik dan Aesun yang tetap mesra meski berbagai kejadian menimpah.
Gwansik menggendong Aesun karena senang bisa mewujudkan salah satu impian istrinya sebelum meninggal
Sumber : Netflix Korea Instagram

Adegan terbaik dua sejoli ini indah banget, batin terasa terobati tiap mereka saling gandengan tangan. Dari tangan mereka masih mulus sampe keriput. Dari jari Gwan-sik masih normal, sampe nggak bisa dilurusin gara-gara patah. Saking detailnya ini drama, gaya bicara Aesun yang suka reduplikasi kata ditiru Gwansik semakin dia tua. Lucu yaah mereka berdua ini πŸ˜†

Gwansik dan Aesun berpegangan tangan versi masa muda
Gwansik dan Aesun berpegangan tangan versi tua
Sumber : Netflix K-Content YouTube

Hubungan Kompleks Antara Orangtua dan Anak

Salah satu kutipan terkenal drama ini.

"Aku mau Geummyung bisa melakukan apa saja, punya semuanya, makan apapun yang dia mau, pokoknya bisa semua-semua hal. Aku nggak mau dia jadi perempuan yang cuman nyiapin meja makan, aku mau dia jadi perempuan yang bisa banting meja makan," Aesun muda.

Bandingkan dengan yang ini.

"Musim semi yang datang dengan cepat itu. Membuat Ibu yang berusia 18 tahun kehilangan ibunya, tetapi menjadi seorang Ibu. Ayah yang berusia 19 tahun dapat Geummyung, bukan medali emas (nama Geummyung merujuk ke emas). Bagi mereka, musim semi bukanlah musim untuk bermimpi tetapi menjadi musim yang mematahkan mimpi." Geummyung.

BROOOO😭😭😭

Dua dialog ini dinarasikan oleh dua orang berbeda, yang pertama Aesun dan kedua putrinya Geummyung. Bisa dirasakan betapa hubungan orangtua-anak ini sangat-sangat penuh pengorbanan. Aesun dan Gwansik yang selalu mau kasih terbaik ke anak-anak mereka, sedangkan anak-anaknya selalu ngerasa beban buat orang tua mereka.

Sebenarnya nggak ada yang salah sih, dilihat dari semua perspektif masing-masing, perasaan itu tumbuh nggak begitu aja. Geummyung dan Eunmyung yang tumbuh dari orang tua miskin dan sederhana buat mereka selalu mikirin uang, realistis. Sedangkan Aesun dan Gwansik cuman selalu berharap mereka sehat dan nggak perlu jadi orang kaya yang penting kalian sehat dan bahagia. Makanya dialog yg Geummyung ucapin di chapter 1 itu ngena banget.

"Orang tua selalu mikirin apa yang nggak bisa dia kasih ke anaknya. Sedangkan anak selalu mikirin apa yang nggak bisa dia miliki."

BROOOO😭😭😭

Lalu dibalas di beberapa episode kemudian dengan dialog ini.

"Ayah memberiku 120 dari 100 yang Ayah punya. Mau disuruh tukar dengan Ayah Yang Kaya, aku akan tetap milih Ayah," Geummyung.

Udah tuh, Gwansik udah leleh langsung ke anaknya. Sampe ngomong kalau rasanya penyakitnya langsung hilang setelah dengar satu kalimat itu dari putrinya.

When Life Gives You Tangerines bener-bener jadi tamparan para manusia modern zaman ini. Dimana semuanya dipikirin secara singkat, tanpa mikir panjang. Melalui drama ini, dari yang aku liat di TikTok, reaksi para netijen sangat-sangat beragam. Ada yang ngerti posisi Aesun-Gwansik sebagai orang tua, ada juga yang ngerti posisi sebagai Geummyung dan Eunmyung sebagai anak yang tumbuh dari keluarga miskin.

Tidak sampai disitu, potret kasih seorang Ibu digambarkan bukan hanya antara Geummyung-Aesun tapi sampe nenek Aesun.

"Nek, kalau nanti aku sudah jadi Nenek juga, apakah udah nggak butuh seorang Ibu?"

Aesun sebagai seorang anak pertama perempuan yang tumbuh besar tanpa sosok Ibunya selalu merasa melihat dirinya kembali ke Geummyung, dan aku rasa itulah yang buat hubungan mereka terasa lebih kompleks. Dari Geummyung yang direndahin sama calon mertuanya cuman karena miskin, liat anaknya keliling pinjam uang pas kondisi hamil, sampe cari jodohnya pun mirip sama dia (untung dapat jackpot wkwk).

Selain Aesun, Gwansik juga punya peran penting dalam cerita ini. Dia bener-bener cocok sama julukannya, Si Hati Baja. Diam, pekerja keras, nggak pernah ngelu, nggak pendendam. Puluhan tahun dia jadi nelayan tapi nggak pernah sekali pun dia nyuruh anaknya kerja di kapal, sesusah apapun cari pekerjaan. Tapi dibalik sifat-sifat bajanya itu, dia tetap seorang ayah dan suami yang penyayang dan all-in ke keluarganya.

Momen saat dia dukung Eunmyung diam-diam saat tau anaknya pergi jualan kue beras keliling setelah keluar dari penjara sangat mengharukan. Bahkan saat tahu Eunmyung pergi melaut, dia orang pertama yang datang jemput putranya karena dia tahu kalau istrinya nggak mau kejadian yang menimpah Dongmyung terjadi lagi ke Eunmyung.

Di setiap langkah anak-anaknya, Gwansik selalu jadi supporter terbaik. Slogan khasnya Gwansik, "Kalau kamu pikir nggak bisa, keluar aja! Ayah ada disini!"

Bahkan pas anak wedoknya mau nikah, sampai akhir dia ngomong gitu. Itu nunjukin betapa tulusnya Gwansik ke keluarganya. Seberapa banyak pun masalah yang dibuat anaknya, dia selalu merasa bahwa orang yang bertanggung jawab tetap harus dia.

Ke Eunmyung, Gwansik bilang begini, "Aku belum selesai membesarkanmu!"

Sedangkan di penghujung hayatnya, Geummyung kemudian ngomong begini ke Gwansik, "Aku belum selesai besar!"

Geummyung dan Eunmyung walaupun suka keras ke ayahnya, tetep aja, mereka anak ayahnya. Mereka berdua paling tahu kalau di keluarganya ini ayah merekalah yang paling banyak berkorban dan berjuang. Sampai Aesun bilang ke Eunmyung, "Kau bisa membenciku, tapi jangan pernah ngomong kalau kau membenci ayahmu. Di antara semua orang, kau tidak boleh seperti itu ke ayahmu. Hatinya akan terluka."

Terakhir, kita tutup dengan narasi terbaik Geummyung ke ayahnya.

"Aku punya Ayah yang penyayang, tapi Ayahku tidak punya putri yang penyayang."

Sebenarnya sangat banyak yang bisa dibahas soal kisah cinta antara orangtua dan anaknya ini. Tapi sepertinya akan sangat-sangat panjang yah, jadi kita bahas yang paling berkesan aja.

Geummyung dan Pangerannya

Geummyung melihat lukisan dirinya yang sedang tersenyum, lukisan tersebut adalah lukisan yang dilukis sama Park Chungseob
Sumber : Netflix Korea Instagram

Nah ini nih, cerita yang gaet banyak penonton baru. Kalau sebelumnya yang nonton banyak dari fans IU dan Park Bogum, di chapter ini aku yakin banyak yang nonton gara-gara abis liat Lee Jun-young di Melo Movie sama penampilan spesial Kim Seonho. Yekaan?! Ngaku kaliaan πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Geummyung, sang anak perempuan pertama. Di rumah garang macam macan, di depan pacarnya ternyata bisa imut-imutan. Cinta pertama Geummyung, Youngbum definisi plek ketiplek sama bapaknya. Emang yah keknya pepatah yang bilang buah nggak jatuh jauh dari pohonnya. Bahkan sampe jodoh pun dia mirip sama emaknya wkwk.

Tapi sayang, Youngbum ini terlalu anak mama. Dia cinta sama Geummyung tapi juga mau patuh sama mamanya yang needy itu. Disitulah letak perbedaan Youngbum sama Gwansik, makanya Geummyung suruh milih salah satunya tapi sayang Youngbum tetap pada posisinya yang selalu abu-abu. Heran deh, keknya dia ini INFP yah, kagak bisa buat pilihan terus wkwk.

Akibatnya apa? Yah Geummyung nggak tahan, walaupun masih sama-sama cinta. Karena Geummyung yang udah menerima banyak cinta dari orang tuanya udah nggak perlu lagi cari hal-hal yang nggak pasti. Wong contoh pastinya udah ada di depan matanya, YANG GWANSIK, BAPAKNYA. Dia dari kecil liat bapaknya bela Ibunya depan neneknya, lah sekelas Youngbum yang udah 5 tahun pacaran kagak bisa berkutik di depan mamanya. Taunya teriak, "Ibuuuu, berhenti!"

Ditambah camernya kagak sopan deh, selalu ngerendahin orang tua Geummyung. Geummyung yang sedari kecil diajarin percaya diri dan bangga sama dirinya jadinya terpantik luapan amarah lah.

Untungnya, disaat hidupnya lagi penuh cobaan. Muncullah pangeran berkuda putih yang abis dari wamil. Canda wkwk. Orang Chungseob sama kere-nya kek Geummyung πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi berbeda dengan Youngbum yang udah terbiasa dimomong oleh Ibunya, Chungseob ini lelaki yang tau apa impiannya, cocok dengan karakter Geummyung yang selalu mau hal pasti. Bahkan di awal-awal pertemuan mereka pas Chungseob masih tampil kek nggak pernah mandi, Geummyung selalu muji Chungseob karena bisa menghasilkan uang dari bakatnya yaitu melukis.

Lagi-lagi, Chungseob ini juga plek ketiplek sama Gwansik. Tapi yang buat dia beda dari Youngbum ya itu, Chungseob tahu apa kata hatinya, tindakannya nggak diatur oleh siapapun. Bayangin aja, semenjak dia keluar dari wamil di awal tahun, dia nungguin Geummyung datang ke bioskop tempat mereka berdua kerja sampe Desember. Tanpa tahu kapan mbak crushnya bakalan datang.

Untung aja, waktu itu busnya Geummyung lewat halte dekat Bioskop Cannes, hampir aja dia berakhir seperti Junghwan (Reply 1988) yang terhalang lampu merah wkwk.


Pertempuan Chungseob dan Geummyung di restoran setelah terpisah selama tiga tahun
Sumber : Netflix Korea Instagram

Naaah, besties, itulah adegan-adegan paling berkesan di drama When Life Gives You Tangerines. Sebenarnya banyaaaak banget, tapi namanya review yah aku bahasnya sebagian aja. Kalo bahas tiap dialog jadinya skenario wkwk.

Terakhir, kita bahas pesan dan kesan selama nonton drama ini.

4. Pesan dan Kesan

Jujur aja, udah lama aku nggak nonton drama sampe sedalam ini ngeriew-nya πŸ˜€
Terakhir aku jatuh cinta sedalam ini sama drakor itu pas Goblin tayang. Which is 9 tahun yang lalu. Oke kita langsung aja.

  1. Im jakka-nim sumpah detail banget. Aku sangat sangat love bagaimana cara beliau menyampaikan pesan cinta, kasih orang tua, kasih anak, perjuangan hidup. Beliau hebat banget menghubungkan tiap benang-benang merah yang kusut itu jadi satu kesatuan cerita yang kompleks dan dalam. Sutradara Kim juga hebat bisa membawa dunia 2 dimensi itu ke dalam sebuah visualisasi yang indah dan menyentuh hati. Pokoknya tim produksi drama ini, kalian hebat.
  2. Nah kalau ini pesannya nih:
    1. Jangan pernah benci sama orang tua, kita itu cuman tahu separuh dari hidup orang tua kita. Jauh sebelum kita lahir, mereka juga punya nama dan impian sendiri. Selama ngerawat kita, kita juga nggak pernah tahu apa aja yang mereka korbankan. Sedangkan dia udah tahu kita sejak kita lahir. Nah, terutama buat ayah, apalagi besties yang punya ayah yang dieeem aja, jangan dianggap jutek yah, emang itu udah naluri laki-laki, sedikit bicaranya. Kalean ajaklah dia bicara hal-hal kecil. Kan Geummyung udah bilang, perempuan makin tua makin tangguh sedangkan lelaki makin tua makin rapuh.
    2. Cinta itu harus sederajat. Yah kalian nggak salah denger. Sederajatnya bukan hartanya, tapi rasa cintanya. Kalau kamu mau pasangan yang penyayang, kamu duluan yang jadi orang penyayang. Makanya tuh ada pepatah bilang, jodoh itu cerminan dirimu. Liatlah Aesun, senelangsa apapun hidupnya dengan Gwansik tetep aja dia ceria dan positif. Gwansik pun begitu, tau istrinya tetap setia menemani dirinya yang miskin, maka dia selalu ngusahain yang terbaik supaya istrinya nggak kesusahan. Jadi mereka itu definisi pasangan yang pantas satu sama lain. 
    3. Seindah apapun drama, ujian tetap ada. Sama seperti drama ini, yang kalo misalnya dijadiin sinetron Indonesia judulnya bakalan jadi Asam Manis Kehidupan. Drama ini nggak menawarkan hal-hal instan. Abis kesusahan datang CEO tampan, kaya, dan bucin dalam hidup lo buat nikahin lo. Justru drama ini menawarkan drama nggak ada villain-nya tapi yang ada apa? Hidup manusia itu sendirilah yang jadi cobaan. Penggambaran hidup manusia yang penuh gejolak, naik turun tergambar dengan apik. Aesun yang sepanjang hidupnya merana baru bisa merasakan yang namanya hidup berkecukupan berkat anaknya di penghujung episode. Nggak ada yang benar-benar jahat di drama ini, mereka cuman nggak tahu caranya buat berbuat baik.

RATING

⭐⭐⭐⭐⭐ (Very recommanded)


Sumber:
https://blog.naver.com/whitesun73/223806225407
https://namu.wiki/w/%ED%8F%AD%EC%8B%B9%20%EC%86%8D%EC%95%98%EC%88%98%EB%8B%A4



Baca juga: [Part 1] Backpacker Low Budget Keliling Pulau Jawa : Dari Kalimantan Menuju Surabaya










Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer